Buka Rakornas Kemenristek/BRIN, Presiden Joko Widodo: BRIN harus bisa Mengorkestrasi Pengembangan Proyek Riset dan Inovasi Strategis untuk Kemajuan Bangsa

Tangerang Selatan, 30 Januari 2020 – Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) tahun 2020 mengangkat tema “Integrasi Riset dan Inovasi” diselenggarakan di Gedung Graha Widya Bhakti (GWB), Jl Raya Puspiptek, Kota Tangerang Selatan, Banten. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Turut hadir Presiden RI ke-5 yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarno Putri, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Puan Maharani, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI La Nyala Mataliti, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Menristek/BRIN Bambang P. S. Brodjonegoro, Menko Polhukam Mahfud MD, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, Gubernur Banten, Walikota Tangerang Selatan, serta peserta Rakornas Kemenristek/BRIN tahun 2020 meliputi LPNK dibawah koordinasi Kemenristek/BRIN (BAPETEN, BATAN, BPPT, BSN, LAPAN, LIPI), Litbang Kementerian, Perguruan Tinggi dan Industri.

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo mengungkapkan masalah-masalah dan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa yakni defisit neraca perdagangan khususnya energi yang sangat mengganggu selama bertahun-tahun, daya saing yang masih rendah, produksi industri nasional yang berbasis riset dan inovasi juga belum maksimal. Presiden memberikan ilustrasi mengenai Brazil. Sejak Tahun 1970 sudah menggunakan produksi energi bioetanol dan sekarang sudah 100% menjadi E100. “Saya ingin kita tidak boleh kalah dengan Brazil, karena kita memiliki potensi jutaan liter minyak sawit untuk Biodiesel. Sekarang ini kita tahu lahan sawit yang kita miliki 13 Juta hektar, 45% milik petani sawit, 55% milik perusahaan. Produksinya sekarang sudah 46 juta ton pertahun. Saat ini kita sudah mampu memproduksi B20 tahun yang lalu dan tahun ini masuk ke B30, nanti akan menuju B40, B50, dan naik menuju B100. Ini bukan sesuatu yang mustahil karena kita punya banyak pakar”, ungkapnya.

Presiden Joko Widodo menyampaikan peran BRIN harus bisa mengorkestrasi pengembangan proyek-proyek riset yang sangat strategis yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memecahkan permasalahan bangsa, dan memanfaatkan peluang global untuk kemajuan Indonesia. Presiden Jokowi meminta BRIN agar mampu mendeteksi dan mengidentifikasi topik-topik riset yang strategis dan inovatif, yang sesuai dengan kebutuhan bangsa. “BRIN harus menjadi Badan Intelijen Inovasi Bangsa, Birokrat BRIN harus turun mengidentifikasi riset-riset inovatif dan strategis, mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dari hulu hingga hilir, dan selesaikan kesulitan yang ada lewat riset dan inovasi”, imbuh Presiden.

Selanjutnya ada 3 hal yang disampaikan Presiden Joko Widodo, “Pertama, BRIN harus segera mengkonsolidasikan agenda riset strategis nasional. Masih banyak bidang yang bisa kita garap selain bidang energi yang tadi dicontohkan. Bidang pangan, farmasi, pertahanan, teknologi informasi, sehingga itu kita harapkan memberikan nilai tambah bagi negara dan perekonomian masyarakat. Kedua lakukan konsolidasi anggaran. Anggaran riset kita, litbang kalau digabungkan angkanya total 27,1 T. Angka ini memang masih kecil dibandingkan dengan negara-negara lain, namun jika kita manfaatkan secara optimal, fokus pada tema-tema strategis yang solutif, kita yakin hasil riset kita akan berdampak pada kemajuan bangsa. Ketiga, konsolidasi aktor dan jejaring yang harus terlibat dalam proyek strategis inovasi nasional tersebut, ajak kerjasama semua pihak, tidak hanya mengkonsolidasikan 329 unit riset milik K/L, tetapi juga bisa meningkatkan peran serta swasta dalam riset-riset unggulan, kita bisa berikan insentif pada swasta yaitu lewat super dedaction text, terangnya.

Sementara itu Menristek/BRIN dalam sambutannya menyampaikan pemerintah akan mewujudkan inovasi dengan memanfaatkan Triple Helix yaitu berupaya mensinergikan, memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara dunia usaha, lembaga penelitian dan perguruan tinggi, serta pemerintah. Kemenristek/BRIN akan mendorong produk riset nasional dan memastikan setiap aktor riset dan inovasi memahami apa yang harus menjadi fokus dan apa yang harus dikerjakan. “Kita ingin memastikan bahwa riset dan inovasi akan memberikan kontribusi nyata dalam agenda percepatan pertumbuhan ekonomi, penyelesaian permasalahan bangsa, agenda berkelanjutan dan agenda kemandirian Iptek Nasional”, pungkas Menristek/BRIN.

Selanjutnya, Menristek/BRIN Bambang P. S. Brodjonegoro memaparkan kerangka pelaksanaan pembangunan Iptek adalah peningkatan kapasitas Iptek dan cipta inovasi. Kerangka mencakup, pertama pemanfaatan iptek dan inovasi di bidang prioritas RIRN 2017 – 2045 untuk pembangunan yang berkelanjutan yang mencakup integrasi pelaksanaan riset dengan skema flexit prioritas riset nasional untuk menghasilkan produk riset dan produk inovasi strategis diantaranya pembangkit listrik tenaga nuklir skala industri, bahan bakar alternatif dari kelapa sawit, kendaraan listrik termasuk battery lithium ion, system fast charging, kereta cepat, pesawat amphibi, pesawat terbang tanpa awak, bahan baku obat dan pabrik garam industri.

Kedua pengembangan Research Power House yang mencakup peningkatan kuantitas dan kapabilitas dari SDM Iptek, pengembangan dan penguatan infrastruktur litbang yang strategis, penguatan pusat unggulan iptek, pengelolaan data kekayaan hayati dan intelektual, serta pengembangan jaringan kerjasama riset dalam dan luar negeri.

Ketiga penciptaan ekosistem inovasi yang mencakup penguatan kerjasama Triple Helix, perbaikan tata kelola paten kekayaan intelektual, penguatan sains tekno park utama, perintisan fungsi teknologi komersialisasi office dalam kerangka manajemen inovasi di perguruan tinggi, perintisan teknologi transfer office di LPNK Iptek, dan pembinaan perusahaan pemula berbasis teknologi atau start up.

Keempat peningkatan jumlah dan kualitas belanja Litbang melalui integrasi BRIN yang ditunjang oleh peningkatan belanja Litbang dari hasil pengembangan dana abadi Penelitian dan Pengembangan, Pengkajian dan Penerapan (Litbangjirap) untuk menghasilkan invensi dan inovasi penguatan pendataan dan fasilitasi pendanaan alternative dari luar pemerintah serta pemberian insentif fiskal untuk penelitian dan pengembangan iptek inovasi.

Lebih rinci menurut Menristek/BRIN, manfaat kegiatan Litbangjirap dalam mendukung transformasi ekonomi yaitu pertama lahirnya berbagai teknologi tepat guna terutama oleh masyarakat berpenghasilan rendah atau UMKM yang akan menambah produktivitas masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Kedua, lahirnya produk berbasis sumber daya alam dengan sentuhan teknologi dan inovasi serta peningkatan nilai tambah dan hilirisasi serta ketiga mendorong penelitian dan menghasilkan substitusi import dan peningkatan tingkat kandungan dalam negeri dalam produk inovasi. Hilirisasi hasil penelitian dan pengembangan juga diharapkan dapat menjawab kebutuhan dalam negeri sehingga bisa mengurangi import yang membebani neraca perdagangan.

Dalam kesempatan ini, Presiden Jokowi Juga melihat pameran produk inovasi hasil riset dan pengembangan yang ditampilkan di Gedung Widya Bhakti. Rakornas Kemenristek/BRIN Tahun 2020 berlangsung selama 2 hari yakni 29 – 30 Januari 2020. (MAS)

 

DOKUMENTASI